Selasa, 17 Desember 2019

Tangisan Natal





Oleh: Yesaya gobay



Suara mambruk - Natal yang kasihan
saudara di bunuh di saat natal natal
Natal Kesempatan indah
aku juga pasti di bunuh
Pasti sengsara natal di papua
Aktivis menggungsi takut di tembak
Ini suara petasan atau peluru
Kota kota meriah yang indah

papua busuk yang berdara
Luka yang terus terisi
Hidup yang mati
Tagisan yang berdarah
Tak ada yang tau pembunuhan
Natal peluru atau mercun yang mendamaikan
petasan atau peluru menembus kulit
Kerlap kerlip Menghiasi darah
natal papua yang menyedihkan
Yang menuju pemusnahan

Kenapa harus ada natal
Jika banyak nyawa yang harus pergi
natal di jadikan kesempatan
natal jadi alasan pedropan militer

Papua sayang...

Dengar kota bunyi meriah
Buka mata hati bunyi lagi berlombah
Itu petasan atau peluru
Bunyinya sama,
sama sama keras dan nyaring
Darah yang menembus kulit
Timah yang melele di kulit
Petasan atau mercun yang membocori kulit

Aku Keliru...

Jagan natal lagi
Jika ada pembunuhan di saat natal
Jagan natal lagi
Jika pendropan militer alasan keamanan.

Natal kenapa harus di rayakan
Nduga masih menggusi
Hutan jadi tempat berlindung
Tak ada lagi damai natal
Pendropan militer gelap
Pengiriman pasukan keamanan

Papua sayang...
Natal yang terkesan tagisan
Tetesan darah yang tak habisan
Peluruh yang di jadikan mercun
Natal yang  tersimpan luka,
itu papua.

Semoga jagan kaya dulu, tahun tahun sebelumnya yang berdarah itu, bosan dengar suara suara tagisan di hari kedamaian.

#Natal_yang_Kasihan
#Natal_yang_pembunuh
#kasihan_penggungsi_Nduga
#West_Papua_Menaggis

YESAYA GOBAY
WestPapua 17/12/2019

Label:

Kamis, 12 Desember 2019

Bangga jadi papua




Oleh: yesaya gobay

Ku telah di bentuk dan di atur olehnya.
Sebagai ciptaan yang paling mulia.

Gunung gunung yang indah,
hijaunya dedaun daun yang rimbah dan pohon pohon yang menjulang tinggi di sana ku di tempatkan.

Ras ku melanesia. Aku papua.
Aku memiliki bangsa yang besar, dan memiliki suku dan budaya yang erat di dalamnya.

Aku berbeda dengan tetangga sebelahan ku. Beda yang sangat jauh.
Beda ras, beda kulit, beda rambut, hingga beda sejarah.

namun adanya kepentingan
yang mempersamakan dan menganeksasi ku.

Aku bukan miskin namun aku di miskinkan. Karena hadirnya aneksasi.

Aku kaya alam ku melimpah.

Banyak orang mementingkan alam ku dan tak mementingkan ku.
Banyak orang, kaya dari kekayaan ku dan aku di miskinkan di tanah  ku sendiri.
seolah olah aku tak punya apa apa.

Aku sayang alam ku, aku cinta negeri ku.
Semangat ku terus ada di jalan jalan,
untuk menyuarahkan kebenaran.
   
_____
Muno bali
Goresan gembel
15/04/2018

Label:

Perempuan pemimpin revolusi





Oleh: Yesaya gobay


Seperti mereka yang ada di persimpangan jalan, Aku juga ada di samping itu,
Memperjuangkan setiap hak hak milik ku.
Agar kami tahu, apa arti hidup.

Tidak mudah Memperjuangkan setiap cinta,
Berusaha Tetap tersenyum di kala haus, lapar, apa lagi di siksa.

itulah hidup si kaum yang di angap bukan manusia oleh sistem, polisi dan kebudayaan ini.

Gadis sering yang di jadikan tradisi semata,
Gadis yang sering di anggap tidak manusiawi,

Inilah hari hari milik kami,
Kami memilih memimpin bangsa ini
Keluar dari rantai budak ini,
Budak akibat dominasi safsu sesat 

Jika perempuan masih di anggap objek,
Kenapa masih banyak pun yang berani marah,
Perempuan pula saatnya memimpin
Keluar dari patriarki dan dominasi kaum adam.

Kesetaran tidak semudah beralik telapak tangan, kesetaraan akan terwujud, 
jika keadilan di cari dengan melawan dan memaksa

Tidak ada cara lain untuk mendapkan keadialan, semudah cinta romantisan.

Terali besi adalah jalan terbaik untuk menjawab bahwa keadilan harus di rebut.

Saatnya perempuan memimpin, mengakhir penindasan.



Timika, 13 oktober 2019

Catatan: 
puisi saat Stela, ros dan noviska di tahan karena protes Rasisme di timika, dan mereka di tahan dalam penjara porles Timika

Label:

Hidup tak berguna




Oleh: Yesaya gobay


hidup ku  akan kemana
hidup ku akan di mana
jika begini hidup ku

ku kira ku bebas
ku kira ku lepas
namun itu dalam hayalan pikiran

hutan hutan ku sudah tak di lindung lagi
gunug gunung di kerut habis
ke mana ku bawah hidup ini
harapan yang besar sudah tak ada lagi
harapan ku tak tau hilang kemana
ku tak berdaya lagi

aku bukan pengemis atas surga
aku bukan peminta minta atas surga
aku bukan miskin atas surga

aku kaya, alam ku melimpah
aku kaya, alam ku penuh warna
beri aku kesempatan untuk menuntut keadilan.

Label:

Adakah keadilan





Oleh : Yesaya gobay


Kehidupan ini yang terus ku alami
Papua penuh dengan isue, tidak mendidik.
Mengiring isi setiap bumi, menguling setiap petinggi.

Lihat sajalah apa yang beredar di layar kaca,
Gumuran darah meredar menimbulkan duka lara.
Saksikanlah tanpa kedip
Betapa sadisnya hidup
Di tengah tegah asap yang gelap
Di tengah tengah api yang bernyala nyala,
Bahkan, Di kampus kampus yang ada

Ku berlari lari..

Meminta keadilan di tegakan di muka bumi
Meminta demokrasi  hadir hari ini
Tanpa kompromi logis
Senjata berkuasa jaya
Hoax beredar tak mendidik
Para Aktivist di culik,  petinggi di ancam.

Ku bertanya..
seketika peluru menembus kulit
Alat negara di gunakan seakan binatang,
Keamanan pun berkelebiahan.
Dan aku pun di salahkan

Apakah tuhan adil kah ?

Semoga dunia ini melek
Memandang hidup ini
Yang diporak-porandakan
Kemanusiaan yang terluka
Dan lagi berduka

Bilur nanah yang meleleh
Di tenggah tenggah tetesan air mata
Cacian yang tak beradab
Pelaku rasis yang belum di usut tuntas
Bunyi peluru sini sana
Peluru yang menembus kulit
Nyawa ku,"papua" hanya seharga permen
Papua darurat kemanusiaan.

#jalanmenagis

Label:

Tak sanggup



Oleh: Yesaya gobay

Sudah cukup sudah,  ini sudah yang ke
Berapa kali, dari beberapa ribuh kali.
Bosan dengan perbudakan ini,  bosan dengan kelakuan ini, bosan pulah hidup begini.

Senyuman di balik luka.
Sayang anak dalam surga,
yang meminta minta seakan tak punya harta.
Sudah banyak cerita,
pastinya banyak kisah.
Tagisan kini seakan tak terhenti
Seyuman yang terus menghiasi.
Senyuman anak tak berdosa.
Bapa ini hidup kah?
Iya nak ini hidup, ini hidup yang lagi di hidupi.
di mana sekolah yang dulu,
kenapa tidak punya meja
Kenapa tidak punya kursi, kenapa di bawa tenda/terpal.

Ini sekolah kah ?... Ahh anak jalani saja
Bapa juga takut militer ini,
Anak jangan banyak komentar,
Bapa takut di ancam lagi.

Anak berdiam diri
Seakan tak ada persoalan yang terjadi
Sayang anak pengunggsian.
Sayang anak trauma
Sayang anak surga.
Gubernur papua kemana ?
Bupati kemana ?
Mrp kemana ?
Dpr kemana?
Kenapa mereka diam, kenapa mereka tenang
Apakah mereka takut? Ataukah mereka pembunuh?
Sudah cukup penindasan ini
Penindasan yang tak ada habisnya
Yang kini Kian membisu,
diam melulu.

Ingin hidup seribuh tahun lagi,
Hidup keadilan, kenyamanan di negeri ini.
Negeri yang ku damba negeri yang ku nanti.

Pulau sula no27
01/03/2019

#Penggungsian
#Savenduga

Label:

Jalan bisu




Oleh: yesaya gobay.


Jalan yang bisu,

Derita hegemoni yang mengelirukan, tangan kiri anak emperan masih terangkat,

perlawanan rakyat masih memanas yang terpendam,

emperan jalan tangan jadi saksi, tanpa ragu masih terangkat

Mungkin dunia bukan baik baik saja Mungkin kiri emperan punya cerita yang terpendam dan membisu

 Biarkan tagan yang menjelaskan menandakan bahwa penindasan masih ada dan dijalankan dengan sistematis yang terstruktur.

 #KotaDolarRasaRupiah

Label:

Aku sedih




Oleh: yesaya gobay


Aku bukan alat yang di gunakan di saat kau membutuhkan

Aku bukan permainan yang di mainkan di saat musiman itu tiba,
Aku manusia.
Aku juga punnya akal budi yang sempurna dan sehat.
Aku kaya aku bukan miskin

Aku mampu hidup sendiri, aku bukan orang yang tak punnya apa apa
Ku Hidup di gunung, ku hidup di pantai bersama hijaunya daun bersama alam yang kaya dan cerdik.

Kedatangan mu mennyedihkan ku.
Kau datang bagaikan api dan air, kau melintasi gunung gunung, hijaunya daun, dan birunya pantai.
Ku kira, kau membebaskan saudara/i ku yang lagi tercengkram, yang di makan oleh kaum didikan mu.
Ku kira, kau berbicara mengenai pelagaran ham yang terus terjadi. Namun itu hanyalah mimpi belaka.

Kau pergi tanpa perbuatan yang kau buat,
Hannya dokumen yang bisa jadi peganggan di saat pulang.
 Licik juga kau pak. Joko.

Kau bagaikan air yang memadamkan api di saat api itu lagi panas.
Dan kau juga bagaikan api yang memanaskan di saat digin.
Kau berjalan tak sesuai arah yang benar.
Mengambil sebuah dokumen agar di pergunakan di kelak nanti.
licik juga kau joko.


#Cucuran_air_mata
#anak_negeri_papua
Goresan gembel
15/04/2018
Muno - bali

Label:

Suara rakyat



*** Oleh: Yesaya gobay


Ini aku bersama alam mu

Ini aku penjaga alam mu

Ini aku perawat alam mu.

...Wahaii pahlawan ku...

Aku masih seperti dulu

masih di tempat  Yang dulu

yang pernah kau tau itu

Aku masih kuat

merahi titik puncak kebenaran

Aku masih kuat mencapai titik kebenaran.

..Wahaii pejuang ku...

Di mana kah kamu

Ke mana kah diri mu

Di sini masih ku menunggu kedatangan mu

..Wahaii kau pahlawan ku..

Wahaii kau pemberotak kebenaran ku

Wahaii kau penuntut kebenaran ku

Kapan kau datang,

ku masih menunggu mu

Surga kecil mu menangis akan diri mu

Kemarilah..kemarilah..

Wahaii pahlawan ku kemarilah

Aku beserta alam mu terus menunggu

Igin membentuk suatu persatuan

Igin membentuk suatu kekompakan

Ingin menuntut  kebenaran bersama mu

Kapan kah kau datang

Rindu akan diri mu

Di tempat yang dulu

Label:

Sa juga punya hati




***** Oleh: Yeaya gobay

Banyak kisah  masa lalu kolonialisme yang harus di ceritakan,  banyak cerita sejarah darah kolonialisme, imperialisme, kapitalime, militerisme, yang harus ku Beritahukan, di jalan ini, tempat ini, igin ku menceritakan semua, curhatan di megapon ini, dan yang akan menyaksikan.

Jiwa masih hangat, perjuangan masih panjang, pergerakan harus di terus di gencarkan, di sini kami belajar kesetian, kesetian melawan, kesetian berjuang, kesetian jiwa higgga membentuk iman lawan

Kami berada di sini bukan sebuah kebetulan,  bukan pulah suatu kepentigan diri individu tetapi melaikan publik, bukan sembarang, bukan tak punya pendirian, bukan tak punya kerjaan. Juga  kami bukan pemacet jalan, bukan pembuat onar, bukan pemberotak, bukan separatis apalagi teroris.
Kami intelek jalanan yang tidak terima akan sistem ini, sistem yang menindas rakyatnya, membudak rakyatnya,

Tak sanggung dengan semua ini, apa kata mereka di sini, kata yang mengembirakan hingga menyedihkan.
Biarkan kebenaran yang akan membetulkan, kebenaran yang akan meceritakan.
Tagan kiri masih kuat  jiwa pun ikut serta, mereka telah mengajarkan untuk terus bejuang, mengajarkan untuk terus ada di jalan ini, kiri jalan.
Kami bukan artis pembuat berita tetapi kami pembawa kabar buruk bagi para penguasa

Sebenarnya banyak hal yang harus ku ceritakan waktu itu 06 juli 2019,  21 Tragedi biak berdara, aku sedih saat itu, belum sempat mengeluarkan pendapat, mengeluarkan semua yang jadi beban di hati sini.
Banyak sekali pelanggaran ham yang mau ku ungkapkan saat itu, Biak Berdara, wamena berdara, wasior berdara, abe berdara, Paniai berdara, deiyai berdara,  dogiai berdara, dan berapa pelanggaran yang tak bisa di sebut satu persatu.

Jagankan pelagaran masalah lalu yang silam, tragedi tragedi berdara yang beberapa tahun lalu yang belum tuntas proses hukumnya, juga terpenuhi di komnas ham. begitupulah hari ini juga menyedihkan, banyak persoalan yang terjadi di sana, pembunuhan sadis yang terus terjadi di sana yang di abaikan begitu saja, apalagi perampokan, penculikan, pemerkosaan yang terus terjadi di bumi ini, bumi cendrawasi.

Sebenarya igin sekali menceritakan yang sedang terjadi di sana hingga  apa keriduan ku saat ini,bebas dari penjajah (merdeka) . Saat pagi  itu kau melemahkan ku, saat kau memakai warga setempat yang tak tau apa apa, saat kau membentuk ormas reaksioner yang katanya organisasi masyarakat. Kau salah, kau berdosa, kau mengunakan mereka yang tak berdosa.
kau salah, saat itu kau jadi penonton.
Kau aktor penindas rakyat indonesia dan papua.

21 tahun tragedi biak berdara
Denpasar 06 juli 2019

Label:

Masih kuat



Oleh:  yesaya gobay


Betapa indahnya saat berjalan
Di sinari sang mentari di perjalanan panjang ini,
Sinar pagi yang tebarkan cahaya di jalan ini,
Burung burung apalagi berteriak sambil tebarkan sayap, itu tandanya, kebenaran akan menang suatu hari nanti.

Betapa indahnya
Saat bersama mu di persimpagan,
masih kuat, saat melihat diri mu dijalan jalan sunyi kegelapan yang bercahaya ini.
Memiliki komitmen dan satu komando,
satu tujuan bahwa mati dan hidup ada di tagan tuhan, bukan mereka pemilik topeng.
Berlipat tagan sambil berjalan
memiliki jiwa, mati dan hidup itu pasti ada. di sinilah suara hati nurani kami berseru dan iman mu telah menjadi daging yang akan membentuk iman dan lawan

Beginilah cerita kita saat di jalan
Tesenyum walaupun tersiksa
bersedih walau hati tak mampu melangkahi kaki lagit di hari ini
Berjuang walaupun sakit hati
Dan akan ada sebuah tinta hitam di cerita ini

Beginilah ceritanya hidup ini
Jahatnya manusia negara ini
Manusia bertopeng iblis tak punya harga diri dan tak bermoral.
Makasih sedikitnya cerita
Makasih menambah pewarna
Makasih sudah menunjukan semua
Kejahatan kanusiaan di hari ini.

Makasih kepada mu, pemilik topeng,
Telah memberitahu kepada meraka,  telah membuka topeng dan menujukan bahwa, kau aktor di balik semua ini, makasih untuk cintanya, cinta refresif yang terus menjadi dan yang menjadi pelajaran kedepan.

Di sudut ini,  kami hanya dapat mengeluarkan seyuman tipis walaupun hati tak mampu untuk menahan semua ini rupanya, tagan masih terlipat,  seyuman masih terpencar, ini kami kiri masih terangkat.

bergandegang walau akan terjatu, senyum degan sedih, berpegang tagan untuk bersatu, seyum yang bisa jadi pelajaran, bahwa kami tak akan diam,  besok dan lusa kami masih ada di sini,  di jalan ini, jalan tercinta.

Makasih untuk hari ini,
Besok kami masih di sini,
kami masih kuat, perjuangan masih panjang, makasih penyemagat,
makasih kamrade.

*****

Label: